Kolaka Timur, OBORSULTRA.ID – Pemerintah Desa (Pemdes) Wia-wia, Kecamatan Poli-polia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), terus menggenjot pembangunan infrastruktur Jalan Usaha Tani (JUT) tahun anggaran 2025. Pembangunan ini menghadapi kendala cukup serius, terutama kondisi cuaca yang tidak mendukung karena lokasi berada di areal persawahan dan jalan masuk menuju perkebunan warga.
Selain pembangunan jalan, Pemdes Wia-wia juga telah melaksanakan proyek drainase melalui program padat karya tunai yang melibatkan pemberdayaan masyarakat setempat. Hingga saat ini, pekerjaan drainase telah rampung sepanjang kurang lebih 400 meter dan tersebar di empat dusun, dengan tiga dusun di antaranya telah selesai pengerjaannya.
“Pekerjaan drainase ini salah satunya berada di Blok B yang sebelumnya tidak berfungsi karena tertimbun limbah air comberan. Namun sekarang sudah digali, didokumentasikan foto awalnya, dan aliran air limbah warga kini sudah bisa mengalir kembali,” jelas Kepala Desa Wia-wia, Nyoman Suwersa.
Ia menambahkan, pembangunan drainase meliputi Dusun 2 sepanjang 100 meter, Dusun 4 sepanjang 100 meter, serta 126 meter lainnya di lokasi lain. Sisanya akan dilanjutkan sesuai dengan rencana kegiatan desa.
Terkait proyek JUT, menurut Suwersa, peningkatan jalan baru akan dieksekusi setelah musim tanam padi warga selesai. Hal ini dikarenakan alat pertanian masih keluar masuk, dan pengerjaan jalan saat ini berisiko rusak kembali akibat kondisi tanah persawahan yang lembek serta cuaca yang kurang bersahabat.

“Tahun ini dana desa (DD) Wia-wia mencapai sekitar Rp694 juta. Namun setelah dikurangi alokasi 20 persen untuk program ketahanan pangan, tentu ruang gerak kami dalam pelaksanaan program pembangunan menjadi terbatas, apalagi wilayah desa ini cukup luas dan berbatasan langsung dengan tiga desa tetangga, yaitu Poli-polia, Taosu, dan Tokai,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengaku tetap bersyukur dengan adanya Dana Desa (DD) yang dianggap sangat membantu pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.
Sementara itu, terkait Pendapatan Asli Desa (PAD), Suwersa menjelaskan bahwa Desa Wia-wia memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak di sektor simpan pinjam. Meski hasilnya relatif kecil, rata-rata mampu memberikan kontribusi hingga 10 persen.
Pemdes Wia-wia juga tengah memproses pembentukan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang diinisiasi oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Kopdes ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat desa secara kolektif.
“Kopdes ini sudah memiliki lima orang pengurus, anggaran dasar dan rumah tangga (AD/ART), serta skema iuran pokok sebesar Rp200 ribu dan iuran bulanan Rp20 ribu. Kami berharap, jika koperasi ini sudah berbadan hukum dan mendapat dukungan dari pusat, bisa menghidupkan roda perekonomian di desa. Pemdes hanya bertindak sebagai pengawas,” tutup Suwersa. (Tim).