KOLAKA TIMUR, OBORSULTRA.ID – Pelaksana Tugas (PLT) Bupati Kolaka Timur (Koltim), H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa Kabupaten Kolaka Timur tidak hanya dikenal sebagai daerah sentra pangan di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), tetapi juga tetap konsisten menjaga dan melestarikan budaya-budaya lokal.
Hal tersebut disampaikan Yosep Sahaka di sela-sela kegiatan pembukaan Koltim Tenun Sorume di Rest Area UMKM Koltim 2025, yang digelar di Kelurahan Rate-Rate, Kecamatan Tirawuta, Jumat (12/12/2025).
Yosep mengungkapkan bahwa Kolaka Timur merupakan salah satu dari empat kabupaten di Sultra yang ditetapkan sebagai sentra pangan, bersama Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, dan Bombana. Meskipun memiliki luas lahan pertanian yang relatif lebih kecil dibandingkan daerah lain, Kolaka Timur mampu mencatatkan kinerja produksi yang membanggakan.
“Luas lahan kita memang tidak terlalu besar, tetapi produksi padi Kolaka Timur berada di peringkat kedua di Sulawesi Tenggara. Ini adalah salah satu prestasi yang patut kita syukuri,” ujarnya.
Selain sektor pangan, Kolaka Timur juga memiliki potensi besar di sektor perkebunan, khususnya kakao. Yosep Sahaka menjelaskan bahwa Kolaka Timur bersama Kabupaten Kolaka Utara merupakan dua daerah sentra kakao di Sultra. Berdasarkan pendataan terbaru Kementerian Pertanian, Kolaka Timur tercatat sebagai kabupaten dengan luas lahan tanaman kakao terbesar di Sulawesi Tenggara.
Namun demikian, ia mengakui bahwa selama ini Kolaka Timur belum tercatat sebagai penghasil kakao terbesar akibat lemahnya pelaporan data produksi. Pasalnya, hasil kakao dari Kolaka Timur banyak dijual ke Kabupaten Kolaka sebelum dipasarkan ke Sulawesi Selatan, sehingga data produksi tercatat atas nama daerah lain.
“Alhamdulillah, sekarang Kolaka Timur sudah resmi terdaftar di Kementerian Pertanian. Ini menjadi perhatian khusus pemerintah pusat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yosep menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari Menteri Pertanian, Kolaka Timur kini menjadi daerah prioritas yang akan mendapatkan berbagai fasilitas pendukung. Pada tahun 2026, Kolaka Timur direncanakan menerima bantuan pengembangan tanaman kakao seluas kurang lebih 7.000 hektare.
Bahkan, jika program tersebut berjalan dengan baik, pemerintah pusat berkomitmen untuk membangun pabrik pengolahan kakao di Kolaka Timur pada tahun 2027.
“Mudah-mudahan program ini dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, sehingga pemerintah pusat semakin memberikan perhatian kepada Kolaka Timur yang sama-sama kita cintai,” pungkas Yosep Sahaka. (Tim).